Bupati Jember: Home Care Solusi Untuk Masyarakat Miskin Extrim 

SUARA PAGI
3 Min Read

JEMBER, suarapaginew.xom – Bupati Jember Gus M. Fawait, S.E., M.Sc., menjelaskan bahwa pembangunan kesehatan menghadapi dilema: tidak boleh hanya memikirkan rumah sakit, namun juga tidak boleh mengabaikannya. Oleh karena itu, dicari jalan yang menguntungkan dua belah pihak — masyarakat dan pelayanan kesehatan — sekaligus selaras dengan kebijakan pemerintah pusat, yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dengan keterbatasan anggaran, kebutuhan pendanaan sekitar 350–400 miliar rupiah pada saat itu hanya tersedia sekitar 100 miliar rupiah. Namun berkat kesungguhan dan keyakinan BPJS, Jember akhirnya mendapat predikat Universal Health Coverage (UHC) prioritas. Artinya, seluruh warga ber-KTP Jember dapat berobat gratis di seluruh puskesmas dan rumah sakit di Indonesia, karena premi BPJS-nya telah dibayarkan, Jum’ at (7/8)

Di sisi lain, saat awal menjabat, Bupati mewarisi utang sektor kesehatan sebesar 214 miliar rupiah. Kondisi rumah sakit nyaris tidak sanggup bertahan hanya dalam hitungan minggu. Berkat pelaksanaan UHC, rumah sakit tetap beroperasi dan masyarakat mulai merasakan manfaatnya secara luas hingga saat ini.

Namun di lapangan masih ditemui kendala. Bupati bercerita saat takziah di Kecamatan Tanggul, ditemukan warga yang sakit namun tidak berobat ke rumah sakit. Padahal pengobatan sudah gratis. Ternyata masih ada lapisan masyarakat yang belum mengetahui adanya program UHC tersebut.

Bahkan lebih dalam lagi, ditemukan kelompok masyarakat miskin ekstrem yang sebenarnya membutuhkan perawatan. Mereka tidak hanya tak mampu berobat, melainkan tidak memiliki biaya perjalanan ke fasilitas kesehatan. Padahal mereka adalah tulang punggung keluarga.

Dari permasalahan inilah lahir pemikiran untuk menghadirkan layanan langsung ke rumah warga. Selain itu, ditemukan pula fakta bahwa terdapat kelebihan tenaga kesehatan sebanyak 1.200 orang di Kabupaten Jember. Hal ini juga dikonfirmasi saat Wakil Menteri Kesehatan berkunjung dan terkejut melihat jumlah pegawai di puskesmas yang mencapai 80 hingga 120 orang.

Kelebihan tenaga kesehatan tersebut akhirnya dimanfaatkan secara optimal. Solusinya: mengirim tenaga kesehatan langsung ke rumah warga yang membutuhkan. Inilah cikal bakal lahirnya program Home Care, agar pelayanan kesehatan benar-benar menyentuh warga yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan.

Dengan demikian, program Home Care melengkapi keberadaan UHC. Tidak hanya berobat gratis di fasilitas kesehatan, tetapi bagi yang sulit berangkat, petugas kesehatanlah yang datang merawat. Semua ini diupayakan agar tidak ada satu pun warga Jember yang tertinggal dalam pelayanan kesehatan.

Kabiro: Win

Share This Article
Tidak ada komentar