JEMBER, Suarapaginews.com — Harapan agar Pasar Tanjung kembali hidup dan berfungsi sebagai jantung ekonomi masyarakat bergema kuat dalam pertemuan musyawarah yang dihadiri langsung Bupati Jember Muhammad Fawait, jajaran perangkat daerah, warga, serta para pedagang, Selasa (22/9/2026)
Suara tulus datang langsung dari Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Tanjung yang menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi mendalam.
“Pak Bupati Gus Fawait adalah satu-satunya Bupati yang berani menurunkan retribusi kami, dan beliau pula yang mengundang kami langsung ke Pendopo. Selama puluhan tahun mengabdi di sini, baru kali ini pimpinan daerah benar-benar mendengar kami, bukan sekadar memberi perintah,” ungkapnya dengan suara bergetar haru.
Para pedagang menyampaikan secara terbuka kondisi yang memprihatinkan saat ini: dari seluruh bangunan Pasar Tanjung, hanya sekitar 30 persen yang masih digunakan pedagang di lantai atas. Sementara di area bangunan baru bagian selatan Monumen Air, jumlah pedagang yang sudah menempati belum mencapai 10 persen, baru sekitar 50 pedagang.
“Harapan kami sederhana: mari kita hidupkan kembali Pasar Tanjung. Bersihkan, perbaiki fasilitasnya, agar yang atas bisa ramai, yang bawah bisa ramai, warga nyaman, dan perekonomian kembali berputar. Jalan harus kembali menjadi jalan, tidak terhalang, tidak sempit,” ujar perwakilan pedagang dengan penuh harap.
Mereka memohon kepemimpinan daerah mengambil langkah nyata, bukan sekadar janji yang terhenti di kata-kata.
Merespons seluruh aspirasi tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait menyambut baik sekaligus menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar berbicara. Langkah nyata segera diambil: dibentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus gabungan yang beranggotakan unsur Pemerintah Kabupaten, Satpol PP, dinas terkait, hingga perwakilan pengelola pasar, baik bagian atas maupun bawah.
Satgas ini bertugas mengawasi operasional pasar secara langsung, menerapkan sistem pengawasan bergilir 24 jam, serta memastikan setiap kesepakatan dijalankan dengan tertib dan adil.
“Saya tidak mau dibilang hanya omong kosong (carpak). Kalau sudah disepakati, mulai besok kita jalankan. Keputusan harus diikuti tindakan nyata,” tegas Gus Fawait.
Pertemuan ini juga mencatat masukan kritis dari warga dan perwakilan wilayah. Pengaturan jam operasional maupun pembagian tempat berjualan tidak bisa dipukul rata di seluruh area pasar.
Wilayah timur dan barat memiliki karakteristik berbeda, termasuk keterbatasan lahan parkir, gangguan arus lalu lintas, hingga akses warga yang terhambat. Dinas Perhubungan pun diharapkan turun tangan mengatur fungsi jalan yang berubah.
Beragam suara ini justru menyatukan satu tujuan: memulihkan Pasar Tanjung yang telah berdiri puluhan tahun agar kembali hidup, tertata rapi, bersih, dan menyejahterakan siapa pun yang bergantung padanya.
“Semoga ini bukan sekadar pembicaraan, melainkan awal perubahan nyata. Hidup rakyat, hidup masyarakat Pasar Tanjung,” tutup perwakilan pedagang.


