Plantungan, Kendal – Mahasiswa KKN UPGRIS Berdampak Kelompok 64 Desa Wadas, Kecamatan Plantungan, menggelar sosialisasi anti-bullying di MI Muhammadiyah Wadas, Kamis (6/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.
Sosialisasi diikuti siswa kelas III dan kelas V dengan materi yang disesuaikan berdasarkan usia serta karakteristik peserta didik. Kelas V menjadi salah satu sasaran utama kegiatan karena berdasarkan hasil koordinasi dengan guru kelas, sebelumnya pernah ditemukan kasus perundungan di lingkungan kelas tersebut.
Sebanyak 17 siswa kelas V mengikuti kegiatan dengan antusias. Dalam kesempatan itu, mahasiswa KKN memberikan pemahaman mengenai pengertian bullying, berbagai bentuk perundungan, dampak yang ditimbulkan terhadap korban maupun pelaku, hingga langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya bullying di lingkungan sekolah.
Latar belakang pelaksanaan sosialisasi juga diperkuat dengan adanya pengalaman salah satu siswa yang pernah menjadi korban perundungan ketika masih duduk di kelas I.
“Dulu sewaktu aku kelas I pernah di-bully dengan nama orang tua dan dipukul. Waktu itu aku sedih sampai takut untuk berangkat sekolah,” ungkap siswa tersebut.
Pengalaman itu menjadi perhatian tersendiri bagi mahasiswa KKN untuk memberikan edukasi yang tidak hanya berfokus pada pemahaman tentang bullying, tetapi juga membangun keberanian siswa untuk saling menghargai, menghormati, dan menjaga perasaan teman.
Dalam pelaksanaannya, 17 mahasiswa KKN UPGRIS Berdampak Kelompok 64 dibagi menjadi dua tim. Masing-masing tim bertugas memberikan sosialisasi kepada siswa kelas III dan kelas V.
Untuk siswa kelas V, materi disampaikan melalui pemaparan, diskusi, serta tanya jawab mengenai berbagai situasi yang berpotensi menjadi tindakan perundungan. Sementara itu, bagi siswa kelas III, penyampaian materi dibuat lebih sederhana dan komunikatif dengan memanfaatkan permainan edukatif, cerita singkat, serta sesi tanya jawab.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti permainan, serta menyampaikan pendapat ketika diberikan kesempatan untuk berdiskusi.
Mahasiswa KKN juga mengajak para siswa untuk memahami bahwa bullying bukan sekadar tindakan kekerasan secara fisik. Ejekan, penghinaan, pemberian julukan yang menyakiti, maupun tindakan lain yang membuat seseorang merasa tertekan juga dapat menjadi bentuk perundungan.
Para siswa kemudian diberikan pemahaman mengenai pentingnya berani mengatakan tidak terhadap bullying, tidak ikut mendukung atau menertawakan tindakan perundungan, serta segera melaporkan kepada guru apabila melihat atau mengalami kejadian yang mengarah pada bullying.
Selain pencegahan, nilai empati dan kepedulian juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Siswa diajak untuk membangun kebiasaan saling menghormati, menghargai perbedaan, membantu teman yang mengalami kesulitan, serta menciptakan hubungan pertemanan yang sehat.
Melalui kegiatan ini, KKN UPGRIS Berdampak Kelompok 64 berharap edukasi anti-bullying dapat memberikan dampak positif bagi siswa dan lingkungan sekolah. Kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan peserta didik diharapkan mampu memperkuat kesadaran bersama bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi langkah preventif untuk meminimalkan potensi terjadinya perundungan di sekolah. Lebih dari sekadar sosialisasi, mahasiswa KKN berharap nilai empati, toleransi, kepedulian, dan sikap saling menghargai dapat terus diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan, proses belajar mengajar diharapkan dapat berlangsung secara lebih kondusif sehingga setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.
Pewarta : Tim/ Red


