Dari Dapur Rumahan ke Dunia Digital, KKN UPGRIS Bawa Opak Ibu Nuripah Menembus Pasar Lebih Luas

SUARA PAGI
4 Min Read

Plantungan, Kendal – Dari dapur sederhana di Desa Wadas, Kecamatan Plantungan, sebuah usaha opak rumahan perlahan bersiap melangkah ke pasar yang lebih luas. Adalah Ibu Nuripah, perempuan yang selama kurang lebih 15 tahun tetap setia mempertahankan usaha opak dengan cara sederhana, namun kini mulai diperkenalkan melalui dunia digital, 23/08/2026.

Kesempatan itu hadir melalui program “Opak Go Digital” yang digagas mahasiswa KKN UPGRIS Berdampak Kelompok 64 Desa Wadas, Senin (10/8/2026). Program tersebut menjadi bentuk pendampingan mahasiswa dalam membantu pelaku UMKM lokal memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi dan pemasaran.

Selama ini, usaha opak Ibu Nuripah berjalan dari rumah. Tidak ada toko besar maupun tenaga karyawan. Seluruh proses produksi dikerjakan sendiri, mulai dari mengolah singkong hingga menjemur opak.

Namun, kesederhanaan itu ternyata tidak menghalangi produknya untuk memiliki pelanggan di luar desa.

Pesanan opak bukan hanya datang dari lingkungan sekitar Desa Wadas, tetapi juga telah menjangkau sejumlah daerah seperti Karanganyar, Ngesrep, bahkan hingga Jakarta.

“Dari rumah, tetapi pelanggannya bisa ke mana-mana.” Kondisi tersebut menjadi potensi yang kemudian dilihat mahasiswa KKN Kelompok 64 untuk dikembangkan melalui pemasaran digital.

Dalam sehari, Ibu Nuripah biasanya mengolah sekitar 10–15 kilogram singkong. Ketika pesanan meningkat, jumlahnya bisa mencapai 25 kilogram.

Aktivitas produksi dimulai sejak pagi. Sekitar pukul 05.00 WIB, singkong mulai direbus selama kurang lebih dua jam. Setelah matang, singkong kemudian diolah menjadi adonan, dicetak menjadi opak, dan dijemur hingga siap dipasarkan atau diambil pelanggan.

Bahan yang digunakan pun sederhana, yakni singkong dan garam. Untuk memenuhi permintaan pelanggan tertentu, tersedia pula tambahan bumbu seperti bawang dan ketumbar. Sedangkan opak original menjadi produk yang paling banyak dibuat dan dipasarkan sehari-hari.

Bagi pelanggan, cita rasa dan harga terjangkau menjadi daya tarik tersendiri. Kepala Dusun Jetis, salah satu pelanggan Ibu Nuripah, mengaku sudah cukup sering memesan opak tersebut.

“Opaknya enak dan harganya murah, jadi saya sering pesan dan sudah menjadi langganan di opak Ibu Nuripah,” ungkapnya.

Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 64 kemudian membantu mengenalkan usaha Ibu Nuripah melalui Google Maps, TikTok, dan WhatsApp.

Google Maps dimanfaatkan agar lokasi usaha lebih mudah ditemukan. Sementara TikTok menjadi media untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen dengan jangkauan yang lebih luas. Adapun WhatsApp dapat digunakan sebagai sarana komunikasi dan pemesanan produk.

Bagi mahasiswa KKN, digitalisasi UMKM bukan sekadar membuat sebuah usaha hadir di media sosial. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi upaya mempertemukan produk lokal dengan pola perilaku konsumen yang kini semakin bergantung pada teknologi.

“Opak Go Digital” sekaligus menjadi bukti bahwa usaha rumahan tidak harus berhenti pada pasar sekitar. Produk tradisional yang dibuat secara sederhana pun memiliki peluang untuk dikenal lebih luas apabila dikemas dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.

Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 64 berharap pendampingan tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi Ibu Nuripah. Usaha yang telah bertahan selama belasan tahun itu diharapkan semakin dikenal, memiliki jangkauan pemasaran yang lebih luas, serta mampu menjadi salah satu contoh bahwa UMKM desa juga dapat tumbuh dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Dari singkong yang diolah di dapur sederhana, kini ada harapan baru: opak khas Ibu Nuripah bukan hanya dikenal oleh tetangga, tetapi dapat ditemukan oleh siapa saja, di mana saja, melalui dunia digital.

Pewarta : Tim/ Red

Share This Article
Tidak ada komentar