JEMBER, Suarapaginews.com — Di balik jalanan desa yang berkelok dan lokasi yang jauh dari pusat keramaian, tersimpan kisah-kisah sederhana namun begitu menyentuh hati. Tiga lansia di Desa Darungan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, menghadapi persoalan hidup yang berbeda-beda — namun mereka memiliki satu harapan yang sama: agar tak dilupakan dan tetap diperhatikan.
Pada Minggu, 18 Oktober 2026, Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait) turun langsung meninjau pelaksanaan program Home Care di Desa Darungan, Kecamatan Tanggul. Bersama tim dari Puskesmas Klatakan, rombongan menembus jalanan hingga menggunakan sepeda motor demi menjangkau rumah-rumah warga yang berada di pelosok desa. Bukan sekadar kunjungan biasa, kehadiran mereka membawa harapan baru bagi tiga lansia yang dikunjungi.
📌 Kisah Pertama: Mbah Suri, 68 Tahun — Belum Memiliki KTP
Di Dusun Sumberbulus, tinggal Mbah Suri yang telah berusia 68 tahun namun belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Lokasi tempat tinggalnya yang terpencil membuat proses perekaman kependudukan terhambat oleh kendala sinyal. Selama ini, dokumen identitas yang belum terpenuhi menjadi salah satu hambatan baginya untuk mengakses berbagai layanan dasar yang menjadi haknya sebagai warga negara.
Solusi: Melalui koordinasi dan upaya khusus, petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil memindahkan titik perekaman ke lokasi yang memungkinkan. Mbah Suri kini telah direkam datanya secara langsung di kediamannya, sehingga tak lama lagi ia akan segera memiliki KTP — bukti resmi keberadaannya sebagai warga yang diakui negara.
📌 Kisah Kedua: Mbah Suna, 68 Tahun — Berjuang dengan Luka di Kedua Kaki
Di usia yang tak lagi muda, Mbah Suna harus berjuang melawan penyakit diabetes yang dideritanya. Luka terbuka yang ada di kedua kakinya membutuhkan perawatan medis secara rutin. Di tengah keterbatasan dukungan keluarga dan belum adanya akses bantuan sosial yang memadai, Mbah Suna menjalani hari-harinya dengan keterbatasan yang luar biasa.
Solusi: Tim medis Puskesmas Klatakan memeriksa kondisi Mbah Suna secara langsung di rumahnya. Langkah penanganan medis segera ditentukan, termasuk jadwal perawatan rutin yang akan dilakukan petugas kesehatan secara berkala. Kini Mbah Suna tak perlu jauh-jauh ke puskesmas — kesehatan datang menjaganya.
📌 Kisah Ketiga: Mbah Sugito, 69 Tahun — Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang
Mbah Sugito merupakan lansia penyandang disabilitas yang juga tinggal di Dusun Sumberbulus. Kondisi fisiknya yang terbatas membuat akses ke berbagai layanan publik menjadi tantangan tersendiri. Pergi ke kantor desa atau puskesmas bukan hal yang mudah baginya.
Solusi: Tak perlu beranjak dari tempat tidurnya, Mbah Sugito dilayani langsung di rumah. Perekaman dan pembaruan data kependudukan dilakukan di tempat, memastikan hak-haknya tetap terpenuhi meski ia tak mampu datang sendiri ke kantor dinas.
Gus Fawait menyampaikan bahwa program Home Care bukan sekadar kegiatan sosial sesaat. “Kami sadar, tak semua warga mampu datang ke pelayanan. Ada yang jauh, ada yang sakit, ada yang memiliki keterbatasan fisik. Maka kitalah yang harus datang kepada mereka. Pelayanan kesehatan dan pelayanan dasar tidak boleh berhenti di gerbang puskesmas atau kantor dinas — ia harus sampai ke setiap rumah, terutama mereka yang paling membutuhkan,” ujar Gus Fawait dengan tulus.
Tiga pasien dikunjungi, tiga persoalan didengarkan, dan tiga solusi segera diupayakan. Inilah wajah nyata pelayanan publik — bukan hanya ketika terlihat megah, tetapi ketika mampu menjangkau mereka yang paling jauh, paling tersembunyi, dan paling membutuhkan uluran tangan.
Karena bagi Pemkab Jember, pelayanan tak boleh berhenti di tengah jalan. Semua dilakukan, semata-mata — karena cinta kepada rakyat. (Win)


