Cahaya Tak Padam: PEKA 2026 Bukan Sekadar Festival, Tapi Gerakan Budaya yang Terus Hidup!

SUARA PAGI
4 Min Read

JEMBER, Suarapaginews.com — Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan (PEKA) 2026 telah menuntaskan rangkaian puncaknya melalui Karnaval Budaya pada 27 September 2026. Namun, bagi Taman Nara Bestari, berakhirnya festival bukan berarti berakhirnya gerakan kebudayaan.

Dengan tema “Seniman dan Budayawan adalah Cahaya ‘Kunang-Kunang’ Peradaban”, PEKA 2026 dibangun sebagai sebuah proses panjang yang mempertemukan ekologi, seni, pengetahuan, dan partisipasi masyarakat. Rangkaian kegiatannya bergerak bertahap, mulai dari Sarasehan Ekologi Budaya, lokakarya seni, Pagelaran Seni Budaya dan Pameran Seni Rupa, hingga memuncak pada Karnaval Budaya yang meriah.

“PEKA bukan sekadar festival yang selesai ketika panggung dibongkar. Kami ingin membangun proses. Anak-anak dan generasi muda belajar, berkarya, kemudian membawa ekspresi budayanya kembali ke masyarakat,” ujar Hadi Poernomo, Pembina Taman Nara Bestari, Kamis (8/10/2026).

Proses Panjang yang Membawa Perubahan

Kisah PEKA sesungguhnya dimulai jauh sebelum karnaval berlangsung. Pada 28 Februari 2026, digelar Sarasehan Ekologi Budaya sebuah forum yang mempertemukan perspektif kebudayaan, ekologi, pengetahuan, dan ingatan leluhur. Di sinilah benih kesadaran ditanam: bahwa kebudayaan dan kelestarian lingkungan adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Kesadaran itu kemudian diwujudkan dalam tindakan. Mulai Maret hingga April 2026, berlangsung lokakarya seni yang membuka ruang belajar bagi siapa saja  dari tari dan ekspresi tubuh, musik tradisional, teater, seni rupa, tata busana dan rias, hingga seni digital. Hasilnya sungguh nyata: lahir 15 kostum tari bertema kunang-kunang, 100 lampion, 20 karya seni rupa terpilih, serta penguatan keterampilan peserta dalam berbagai cabang seni.

Hasil pembelajaran itu kemudian dipentaskan pada 11 Juli 2026 di Taman Nara Bestari. Beragam seni tampil berdampingan: tari tradisi, kentongan, glundengan, patrol Jemberan, musik modern, hingga Sendra Tasik  bukti bahwa warisan leluhur bisa hidup berdampingan dengan kreativitas masa kini.

Puncak perayaan terjadi pada 27 September 2026. Sebanyak 38 kelompok terlibat dalam Karnaval Budaya PEKA 2026 yang melintasi wilayah Kelurahan Bintoro dan Patrang. Lebih dari sekadar arak-arakan indah, karnaval ini merepresentasikan suara dari 15 RW dan 48 RT, dengan sekitar 2.000 warga terlibat secara aktif.

Bukan Hanya Kemeriahan, Tapi Perubahan Sikap

“Yang paling penting bukan hanya jumlah peserta atau kemeriahan karnaval. Yang kami lihat adalah perubahan posisi masyarakat: dari penonton menjadi pelaku. Mereka membawa cerita, identitas, dan ekspresi budayanya sendiri ke ruang publik,” tegas Hadi.

Pilihan kunang-kunang sebagai simbol pun bukan tanpa makna. Kunang-kunang hanya bisa hidup di lingkungan yang sehat keberadaannya adalah tanda bahwa alam masih terjaga. Begitu pula budaya: seniman dan budayawan mungkin tak selalu di pusat sorotan, tetapi merekalah yang menjaga cahaya pengetahuan agar tidak padam.

“Cahaya kunang-kunang memang kecil, tetapi justru terlihat ketika lingkungan masih memungkinkan kehidupan. Begitu pula kebudayaan. Mereka mungkin kecil, tetapi bersama-sama, cahaya-cahaya kecil itu bisa membuat malam tidak lagi sepenuhnya gelap.”

PEKA 2026 membuktikan: ruang kecil bisa menjadi titik awal gerakan besar. Dari pekarangan tumbuh pembelajaran, dari pembelajaran lahir karya, dari karya lahir partisipasi, dan dari partisipasi lahirlah kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Festival ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, LPDP, dan Dana Indonesia Raya.

“Festivalnya memang selesai. Tetapi kalau setelah festival anak-anak muda masih terus berkarya, masyarakat masih terus bergerak, dan ruang-ruang budaya terus hidup maka di situlah PEKA sebenarnya berhasil,” tutup Hadi.

Cahaya kunang-kunang tak padam. Dan di Jember, cahaya itu terus menyala. (Win)

Share This Article
Tidak ada komentar