JEMBER, Suarapaginews.com — Suasana hangat, damai, dan penuh warna mewarnai Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, Jember, pada Minggu, 27 September 2026. Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan (PEKA) digelar dengan keunikan yang membedakannya dari karnaval pada umumnya: bebas dari kebisingan pengeras suara berdaya tinggi, kembali ke jati diri pawai yang tenang, bermakna, dan ramah lingkungan.
Digagas oleh Yayasan Nara Bestari dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan LPDP, kegiatan ini bukan sekadar pawai hiburan, melainkan perayaan kebersamaan, pelestarian budaya, serta kepedulian terhadap alam. Sepanjang Jalan Branjangan menjadi saksi keikutsertaan luar biasa dari sekitar 2.000 warga, yang berasal dari 15 Rukun Warga (RW) dan 68 Rukun Tetangga (RT) se-Kelurahan Bintoro.
Rute pawai membentang sejauh 3 kilometer, dipenuhi barisan warga yang tampil penuh semangat. Yang paling istimewa, tidak ada suara bising pengeras suara raksasa yang memekakkan telinga konsep “sound horeg” diusung secara konsisten. Alat pengeras suara yang digunakan hanyalah toa sederhana, sehingga suasana tetap tenang, jernih, dan komunikasi antarwarga tetap terjalin dengan baik sepanjang perjalanan.
Simbol Kunang-Kunang: Harmoni Alam & Budaya
Nama dan simbol kunang-kunang dipilih bukan tanpa makna. Hewan kecil yang bercahaya di kegelapan ini merepresentasikan keharmonisan antara kelestarian alam dan kekayaan tradisi budaya. Warga, terutama anak-anak, tampil mengenakan kostum bertema alam yang indah, sekaligus mengangkat poster-poster berisi pesan-pesan edukasi ekologi dan pelestarian budaya.
“Kami ingin mengembalikan jati diri karnaval tempo dulu meriah tanpa bising, ramai namun tetap santun, dan bermakna bagi lingkungan tempat kita tinggal,” ujar perwakilan penyelenggara.
Kegiatan ini membuktikan bahwa kemeriahan tidak harus diukur dari seberapa keras suara yang terdengar, melainkan dari seberapa dalam kebersamaan terasa. Warga saling menyapa, berjalan beriringan, dan merayakan identitas bersama tanpa mengorbankan kenyamanan lingkungan sekitar.
Festival PEKA Bintoro sukses menjadi bukti nyata: budaya yang hidup adalah yang mampu berjalan beriringan dengan alam. Semangat ini diharapkan menular ke daerah lain, menjadi inspirasi pawai dan perayaan yang indah, beradab, dan lestari. (Win)


