Semarang, 22 Mei 2026 – Hati nurani publik kembali terusik setelah seorang warga berinisial F di wilayah Bugen, Jalan KH Sholeh 3, Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, menjadi korban pencurian tabung LPG yang selama ini digunakan untuk berdagang demi menyambung hidup seorang diri sejak suaminya meninggal dunia.
Peristiwa ini bukan sekadar kasus pencurian biasa. Di balik hilangnya satu tabung LPG, tersimpan potret nyata rapuhnya keamanan lingkungan dan lemahnya kepedulian aparat wilayah terhadap penderitaan rakyat kecil.
Warga mulai mempertanyakan keberadaan pengurus RT yang dinilai minim pengawasan terhadap keamanan lingkungan. Di tengah berbagai program keamanan dan anggaran lingkungan yang terus berjalan setiap tahun, aksi pencurian justru masih bebas terjadi di permukiman warga tanpa pengawasan yang jelas.
“Kejadian seperti ini bukan hanya soal maling, tapi soal lemahnya penjagaan lingkungan. RT seharusnya peka dan hadir menjaga warganya, bukan hanya muncul saat ada iuran atau kegiatan seremonial,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Sorotan tajam juga mengarah ke pihak kelurahan. Masyarakat menilai pemerintah tingkat bawah terlalu sering berbicara program, namun lemah dalam realisasi perlindungan nyata terhadap warga. CCTV yang disebut-sebut menjadi bagian dari sistem keamanan lingkungan dinilai belum memberikan manfaat maksimal, bahkan keberadaannya dipertanyakan warga.
“Kalau memang keamanan lingkungan menjadi prioritas, kenapa warga kecil masih jadi korban? Jangan sampai anggaran hanya sibuk di laporan, sementara rakyat dibiarkan menghadapi kriminalitas sendirian,” tambah warga lainnya.
Kritik juga mengarah hingga ke Pemerintah Kota Semarang. Di tengah gencarnya pencitraan pembangunan kota dan berbagai slogan pelayanan masyarakat, kasus pencurian kebutuhan dapur milik seorang janda miskin justru menjadi bukti bahwa rasa aman belum benar-benar dirasakan masyarakat kecil di tingkat bawah.
Publik menilai pemerintah kota tidak boleh hanya fokus pada proyek pembangunan fisik dan seremoni pencitraan, tetapi lalai terhadap keamanan sosial masyarakat yang menjadi kebutuhan paling mendasar.
Ironisnya, korban yang hidup dalam keterbatasan ekonomi justru harus menerima kenyataan pahit ketika alat untuk mencari nafkah dicuri tanpa adanya perlindungan nyata dari lingkungan maupun pemerintah setempat.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa keamanan warga bukan sekadar formalitas rapat RT, papan program kelurahan, ataupun slogan pelayanan pemerintah kota. Ketika rakyat kecil kehilangan alat untuk bertahan hidup dan tidak ada sistem yang mampu melindungi mereka, maka yang dipertanyakan bukan hanya pelaku pencurian, tetapi juga fungsi dan tanggung jawab para pemangku jabatan di wilayah tersebut.
Warga kini berharap ada langkah nyata, bukan sekadar ucapan prihatin. Sebab bagi rakyat kecil, satu tabung LPG bisa menjadi penentu apakah dapur tetap mengepul atau justru berhenti total.
Pewarta : Red/ tim


