Hari Palang Merah Sedunia, PMI Kota Semarang Lantik 400 Lebih Relawan Kampus untuk Aksi Kemanusiaan

SUARA PAGI
4 Min Read

SEMARANG, Suarapaginews.com – Peringatan Hari Palang Merah Sedunia 2026 menjadi momentum penting bagi PMI Kota Semarang untuk memperkuat barisan relawan muda.

Sebanyak lebih dari 400 anggota Korps Sukarela (KSR) dari berbagai perguruan tinggi resmi dikukuhkan dalam sebuah upacara yang berlangsung di depan kantor PMI Kota Semarang, Sabtu (9/5/2026) pagi.

Pengukuhan tersebut tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat gerakan kemanusiaan di Kota Semarang.

Para relawan mahasiswa ini diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat, terutama saat terjadi bencana maupun kondisi darurat lainnya.

Ketua PMI Kota Semarang, Dr. dr. Awal Prasetyo, menegaskan bahwa relawan KSR memiliki peran besar sebagai penjaga nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.

Menurutnya, tema Hari Palang Merah Sedunia tahun 2026, Keeping Humanity Alive, menjadi pengingat bahwa semangat kemanusiaan harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda.

“Hari ini kalian menjadi bagian dari Korps Sukarela PMI Unit Kota Semarang. Itu berarti kalian menjadi penerus yang menjaga, merawat, dan melestarikan nilai kemanusiaan agar tetap hidup di bumi ini,” ujar Awal.

Ia menjelaskan, relawan PMI tidak hanya bertugas membantu saat terjadi bencana, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan yang melampaui batas wilayah, suku, agama, maupun negara.

Menurut Awal, kemanusiaan merupakan nilai utama yang tercantum dalam sila kedua Pancasila.

Karena itu, saat menghadapi persoalan sosial, seorang relawan harus mengutamakan nilai kemanusiaan di atas kepentingan lainnya.

“Perspektif seorang relawan PMI harus mendunia. Ketika berhadapan dengan masalah kemanusiaan, kita harus mengedepankan rasa kemanusiaan itu sendiri,” katanya.

Sebanyak 400 lebih relawan yang mengikuti pengukuhan berasal dari 17 perguruan tinggi di Kota Semarang dan satu unit dari Markas PMI Kota Semarang. Dengan demikian, saat ini terdapat 18 unit Korps Sukarela PMI yang aktif.

Sebelum resmi bergabung, para relawan menjalani proses pendidikan dan pelatihan secara bertahap, mulai dari pendaftaran, diklat dasar, latihan lapangan, hingga pembekalan prinsip-prinsip dasar kepalangmerahan.

Awal menegaskan bahwa menjadi relawan membutuhkan kesiapan fisik, mental, sosial, serta komitmen untuk terus hadir membantu sesama.

Menariknya, tahun ini PMI Kota Semarang juga mulai melibatkan relawan penyandang disabilitas dalam Korps Sukarela.

Hal itu menunjukkan bahwa semangat menjadi relawan tidak ditentukan oleh kondisi fisik, melainkan oleh niat tulus untuk membantu orang lain.

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana dan Relawan PMI Kota Semarang, Wiwit Rijanto, mengatakan pengukuhan serentak seluruh relawan kampus ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pembinaan.

Menurutnya, pelaksanaan bersama dapat menghemat tenaga pelatih, waktu, serta biaya operasional dibandingkan jika setiap kampus melaksanakan pelantikan secara terpisah.

“Kami ingin semua perguruan tinggi bergerak bersama. Jadi proses pembinaan lebih efisien dan hasilnya juga lebih maksimal,” ujar Wiwit.

PMI Kota Semarang juga tengah menyusun sistem penanggulangan bencana berbasis perguruan tinggi dengan membangun database relawan kampus yang siap bergerak sewaktu-waktu.

Jika setiap kampus menyiapkan minimal 10 relawan aktif, maka akan tersedia sekitar 180 personel tambahan yang siap membantu penanganan bencana di Kota Semarang.

Menurut Wiwit, langkah ini sangat penting karena kebutuhan pelayanan PMI terus meningkat, mulai dari posko siaga 24 jam, pelayanan kesehatan, hingga penanganan darurat saat terjadi bencana.

“Kami berharap relawan kampus tidak hanya hadir saat pelantikan, tetapi benar-benar aktif dan siap mengabdi untuk masyarakat. Mereka adalah kekuatan besar bagi PMI Kota Semarang dalam menjalankan misi kemanusiaan,” pungkasnya.

 

Pewarta : Tim / Red

Share This Article
Tidak ada komentar