KLATEN – Perjalanan spiritual 14 biksu thudong dari Jepara menuju Candi Sewu, Prambanan, Kabupaten Klaten, mendapat sambutan hangat dari masyarakat di sepanjang jalur yang dilalui. Berbagai bentuk dukungan diberikan warga, mulai dari makanan ringan, kue apem, hingga kerupuk sebagai bekal perjalanan para biksu yang menempuh ratusan kilometer dengan berjalan kaki.
Rombongan biksu thudong memasuki wilayah Kabupaten Klaten dari arah Boyolali pada Jumat (29/5/2026) sekitar pukul 06.00 WIB. Mereka melanjutkan perjalanan melalui jalur Klaten–Boyolali dan beberapa kali singgah untuk beristirahat di sejumlah titik.
Setibanya di Kecamatan Tulung, rombongan sempat beristirahat di Mapolsek Tulung dan Balai Desa Majegan. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kecamatan Jatinom, di mana warga menyambut kedatangan para biksu dengan penuh kehangatan. Kue apem yang menjadi salah satu kuliner tradisional khas daerah tersebut dibagikan kepada para biksu sebagai bentuk penghormatan dan dukungan.
Tak hanya itu, perjalanan dilanjutkan dengan singgah di SPBU Surobayan, Kecamatan Jatinom, serta Mapolsub Sektor Ngawen untuk beristirahat sejenak sebelum menuju pusat Kota Klaten.
Sepanjang perjalanan, rombongan mendapat pengawalan langsung dari Kapolres Klaten AKBP M. Faruk Rozi yang turut berjalan kaki bersama para biksu sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan dan budaya tersebut.
Rute perjalanan kemudian melewati Jalan Ki Ageng Gribig dan Jalan Mayor Kusmanto sebelum akhirnya tiba di Vihara Bodhivamsa sekitar pukul 15.30 WIB. Di lokasi tersebut, para biksu melaksanakan ibadah dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.
Salah seorang samanera (biksu muda), Neroda Rakitta Putra, mengungkapkan rasa syukur atas sambutan luar biasa dari masyarakat yang ditemui selama perjalanan.
“Banyak masyarakat yang antusias memberi kepada para bhante, terutama dari saudara-saudara umat muslim. Tadi kami menerima banyak kue apem dan makanan lainnya di sepanjang perjalanan,” ujarnya.
Menurut Putra, perjalanan thudong yang dimulai dari Candi Shima, Jepara, hingga tiba di Klaten telah menempuh jarak sekitar 240 kilometer dengan berjalan kaki. Kondisi cuaca yang panas menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta, terutama pada hari-hari awal perjalanan.
“Cuaca panas menjadi tantangan utama, terutama pada kaki kami pada hari pertama hingga hari ketiga. Namun setelah itu tubuh mulai beradaptasi dan menyesuaikan diri,” jelasnya.
Perjalanan para biksu thudong ini tidak hanya menjadi bagian dari praktik spiritual keagamaan, tetapi juga menjadi simbol kerukunan dan toleransi antarumat beragama. Sambutan hangat masyarakat dari berbagai latar belakang menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan dan saling menghormati yang tumbuh di tengah masyarakat.
Kehadiran para biksu yang berjalan kaki menempuh ratusan kilometer itu pun menjadi perhatian warga di sepanjang rute perjalanan, sekaligus menghadirkan pesan perdamaian, kesederhanaan, dan persaudaraan di tengah keberagaman Indonesia.
Pewarta : Humas/ Red


