Stanislaus Tanje Nahkodai Loce Kempo Mese Bali, Pendataan Warga Jadi Tameng Cegah Masalah Sosial

SUARA PAGI
4 Min Read

BADUNG – Kerukunan Loce Kempo Mese Bali resmi memasuki era kepemimpinan baru. Advokat Stanislaus Tanje, S.H. dipercaya menakhodai organisasi tersebut untuk periode 2026–2029 dan langsung mengambil langkah strategis dengan menetapkan pendataan warga diaspora sebagai program prioritas utama.

Program ini menyasar ribuan perantau asal Manggarai Barat, khususnya warga dari Kecamatan Komodo, Sano Nggoang, Boleng, dan Mbeliling yang saat ini bermukim dan beraktivitas di Bali. Pendataan dinilai sebagai instrumen krusial dalam mencegah persoalan sosial sekaligus memperkuat perlindungan hukum bagi warga perantau.

Komitmen tersebut ditegaskan Stanislaus usai pelantikan yang berlangsung di hadapan ratusan warga Loce Kempo Mese Bali, bertempat di Aula Basement Gereja Katolik Paroki Santo Silvester Pecatu, Badung, Sabtu (24/1/2026). Pelantikan dirangkai dengan Perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama dalam suasana penuh kehangatan, kekhidmatan, dan persaudaraan.

Stanislaus menegaskan, validasi data warga merupakan fondasi utama organisasi. Berdasarkan estimasi internal, jumlah warga Loce Kempo Mese Bali di Bali saat ini telah melampaui 3.000 jiwa.
“Pendataan bukan sekadar urusan administratif. Ini kebutuhan mendasar agar organisasi mampu bergerak cepat, tepat, dan terukur, terutama ketika ada warga yang menghadapi persoalan sosial, ketenagakerjaan, pendidikan, hingga masalah hukum,” tegasnya.

Selain pembenahan internal, kepengurusan baru juga menyiapkan program aksi nyata yang berorientasi pada kepedulian lingkungan. Stanislaus menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif agar warga diaspora turut berkontribusi menjaga Bali sebagai ruang hidup bersama.

“Bali adalah tempat kita mengais rezeki sekaligus rumah kedua. Ini titipan yang wajib dijaga. Ke depan, kami akan menginisiasi kegiatan sosial, termasuk aksi bersih pantai, sebagai wujud tanggung jawab moral dan rasa terima kasih warga Manggarai kepada Bali,” ujarnya.

Tekan Stigma, Perkuat Pembinaan.
Langkah cepat pengurus baru mendapat dukungan penuh dari Ketua Ikatan Keluarga Manggarai Bali (IKMB), Dr. Ardy Ganggas. Sebagai organisasi induk diaspora Manggarai Barat, Manggarai Tengah, dan Manggarai Timur dengan populasi sekitar 15.000 jiwa di Bali, IKMB menilai pendataan sebagai instrumen utama pembinaan dan penguatan kapasitas warga.

Staf Ahli Wali Kota Denpasar itu menegaskan, pendekatan preventif menjadi kunci untuk mencegah gesekan sosial akibat ulah segelintir oknum.

“Seringkali kesalahan individu berdampak pada citra kolektif. Karena itu prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung harus menjadi pegangan bersama. Dengan data yang tertib dan terverifikasi, pembinaan akan jauh lebih efektif dan terarah,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan Alexius Barung, S.H., M.H., perwakilan advokat Manggarai. Ia menekankan pentingnya edukasi budaya bagi warga yang baru merantau ke Bali.

“Pemahaman terhadap adat dan kebiasaan lokal adalah kunci agar warga bisa menyatu dengan lingkungan. Edukasi ini penting untuk menekan potensi konflik yang lahir dari ketidaktahuan,” katanya.

Sementara itu, Anggota DPRD Manggarai Barat, Saleh Muhidin, mengingatkan para perantau agar senantiasa menjaga sikap dan ketertiban, khususnya dalam aktivitas berkumpul di malam hari.

“Hindari kegaduhan yang meresahkan lingkungan. Jangan sampai muncul stigma negatif terhadap orang timur hanya karena ulah segelintir oknum. Tunjukkan kepedulian dan jadilah warga yang baik di tempat kita tinggal,” pesan politisi PKS asal Desa Pantar, Kecamatan Komodo tersebut.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin RD. Adianto Paulus Harun. Seluruh acara berlangsung khidmat, tertib, dan penuh sukacita dalam nuansa persaudaraan yang kental hingga akhir kegiatan.

 

Pewarta : Red/ Yazied

Share This Article
Tidak ada komentar