Selat Nasik, Belitung, SuaraPaginews.Com — Bang Obri kembali menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan terkait rencana perkebunan sawit skala besar di wilayah Mendanau murni merupakan kritik terhadap kebijakan publik, bukan persoalan pribadi, dan sama sekali bukan upaya melarang atau menghalangi hak warga atas lahannya.
Bang Obri menegaskan bahwa keputusan menjual atau tidak menjual lahan sepenuhnya adalah hak setiap warga, tanpa tekanan dan tanpa campur tangan siapa pun. Ia menyatakan tidak pernah melarang, mengarahkan, ataupun mengintimidasi warga terkait pilihan tersebut. Oleh karena itu, ia meminta agar kritik kebijakan tidak ditafsirkan secara keliru seolah-olah ia menentang hak kepemilikan atau keputusan individu masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan setelah Bang Obri memberikan klarifikasi melalui akun Facebook pribadinya terkait adanya pesan WhatsApp (WA) yang mengaitkan orang tuanya dengan perbedaan pandangan kebijakan publik.
“Perbedaan pendapat soal kebijakan publik jangan dibawa ke ranah pribadi. Apalagi sampai menyangkutpautkan orang tua saya. Itu tidak masuk akal dan tidak bisa saya terima,” tegas Bang Obri.
Ia memastikan bahwa orang tuanya sama sekali tidak mengetahui, tidak terlibat, dan tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan sikap kritis yang ia sampaikan.
“Jangan sangkutpautkan orang tua saya dalam urusan ini. Kalau mau berdebat, debatkan kebijakannya. Jangan keluarga saya apa lagi orang tua saya,” ujarnya.
Menurut Bang Obri, kritik terhadap kebijakan publik merupakan hak setiap warga dalam kehidupan demokrasi dan seharusnya dijawab dengan argumentasi yang rasional, data yang jelas, serta dasar hukum yang kuat, bukan dengan tekanan personal.
“Saya terbuka untuk diskusi dan perbedaan pendapat. Tapi jangan sangkutpautkan orang tua. Kalau berbeda pandangan, yang cerdaslah menyikapinya,” tutup Bang Obri.
pewarta:joni/red


