Semarang, 18 Februari 2026 – Ketua Umum Yayasan Kalacakra Underaning Jawa, RT. Hendarto Widi Utomo, SE yang akrab disapa Ki Cakra Panggilingan, menyampaikan bahwa menghadapi bulan suci Ramadan merupakan perpaduan unik antara spiritualitas dan kebudayaan.
Menurutnya, Ramadan bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga, melainkan ruang pertemuan antara hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan antar sesama manusia (hablum minannas) yang diperkuat oleh tradisi serta kearifan lokal Nusantara.
“Di Indonesia, puasa tidak berdiri sendiri sebagai ritual agama. Ia menyatu dengan budaya, menjadi laku batin yang memperhalus diri dan memperkuat harmoni sosial,” ujar Ki Cakra Panggilingan di Semarang.
Puasa sebagai Laku Tapa dan Pengendalian Diri
Dalam pandangan budaya Jawa, puasa dimaknai sebagai laku prihatin atau laku tapa — proses pengendalian hawa nafsu demi melembutkan batin. Ramadan menjadi momentum penyempurna laku tersebut, baik secara lahir maupun batin.
Menahan diri bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari amarah, emosi, serta pamrih yang dapat mengeruhkan hati.
Memayu Hayuning Bawono: Spirit Harmoni dalam Puasa
Ki Cakra Panggilingan menegaskan bahwa nilai-nilai luhur Jawa seperti Memayu Hayuning Diri, Memayu Hayuning Sasama, dan Memayu Hayuning Bawono selaras dengan tujuan Ramadan.
Puasa menjadi sarana:
Memperbaiki kualitas diri
Menguatkan hubungan sosial
Menjaga keseimbangan alam semesta
“Ramadan adalah momentum memayu hayuning bawono dalam praktik nyata,” tegasnya.
Tradisi Lokal yang Menguatkan Spiritualitas
Beragam tradisi Nusantara turut memperkaya makna Ramadan, di antaranya:
Megengan, tradisi menyambut puasa sebagai permohonan keselamatan dan kerukunan
Ziarah kubur, sebagai refleksi perjalanan hidup dan penghormatan kepada leluhur
Selametan atau kenduri, bentuk syukur dan doa bersama yang mempererat kebersamaan
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa budaya dan agama berjalan berdampingan, saling menguatkan, bukan bertentangan.
Puasa dan Keheningan Batin
Dalam spiritualitas Jawa dikenal konsep semedi dan tapa brata. Ketika dipadukan dengan puasa, menurut Ki Cakra, batin menjadi lebih jernih dan rasa eling (kesadaran spiritual) semakin kuat.
Ramadan pun bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi ruang kontemplasi untuk kembali kepada kesadaran diri yang sejati.
Ramadan sebagai Siklus Waktu Suci
Bagi sebagian masyarakat Jawa, Ramadan adalah waktu yang “sumurup” — masa turunnya berkah dan pencerahan. Ibadah dan doa diyakini memiliki getaran spiritual yang lebih kuat karena berada dalam momentum waktu yang sakral.
Kesimpulan: Kesatuan Indah antara Ibadah dan Budaya
Ki Cakra Panggilingan menyimpulkan bahwa bulan puasa, budaya, dan spiritualitas menciptakan satu kesatuan yang harmonis:
Ibadah yang semakin khusyuk
Batin yang semakin halus
Masyarakat yang semakin rukun
Alam yang semakin dijaga
Diri yang kembali pada kesucian
Ramadan, dalam perspektif budaya Jawa dan Nusantara, bukan hanya kewajiban agama, tetapi jalan pemurnian diri dan peradaban.
Pewarta : HWU


