Demak — Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Futuhiyyah, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat (6/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Menag menegaskan bahwa pondok pesantren mendapat perhatian dan penguatan yang semakin nyata di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Dalam periode Presiden Prabowo, pondok pesantren itu semakin membaik,” ujar Nasaruddin kepada awak media di lokasi kunjungan.
Ia menjelaskan, salah satu bukti konkret keberpihakan pemerintah terhadap pesantren adalah penguatan kelembagaan di lingkungan Kementerian Agama. Jika sebelumnya urusan pesantren berada di bawah satu direktur pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, kini pesantren memiliki lembaga khusus setingkat Direktorat Jenderal Pondok Pesantren.
“Tadinya pondok pesantren hanya di bawah satu direktur. Sekarang diangkat menjadi satu direktorat jenderal. Ini menandakan keseriusan negara dalam memajukan pesantren,” tegasnya.
Selain penguatan kelembagaan, Menag juga menyoroti lonjakan signifikan pada kuota Pendidikan Profesi Guru (PPG) di lingkungan Kemenag. Ia menyebut, kuota PPG bagi guru madrasah meningkat hingga 700 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu kuota PPG sangat terbatas. Sekarang peningkatannya mencapai 700 persen,” ungkap Nasaruddin.
Tak hanya itu, proses pengangkatan guru madrasah melalui skema PPPK juga mengalami peningkatan, meski dilakukan secara bertahap karena keterbatasan kuota dan besarnya jumlah tenaga pendidik.
“Sekarang ada peningkatan, meskipun tidak bisa sekaligus karena jumlah guru yang sangat banyak dan keterbatasan kuota,” imbuhnya.
Dalam kunjungan tersebut, Menag turut menyinggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah. Menurutnya, program ini tidak membedakan antara sekolah umum dan pondok pesantren.
“Makanan bergizi gratis itu juga ada di pondok, ada di sekolah. Insyaallah ke depan semua pondok pesantren akan memanfaatkan program MBG ini,” jelasnya.
Nasaruddin menilai program MBG menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan santri, meski masih membutuhkan waktu untuk penerapan secara maksimal di seluruh pesantren.
“Saya kira ini tanda-tanda yang baik. Kita hanya perlu waktu untuk memaksimalkan pelaksanaannya,” pungkasnya.
Pewarta : Red/ Tim


