Banjir Rendam Kawasan Industri Tanjung Mas, Pekerja Terpaksa Jalan Kaki hingga Pasrah Dipotong Gaji

SUARA PAGI
3 Min Read

Semarang – Banjir kembali merendam Jalan Couster, Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang, Jumat (9/1/2026).

Genangan air setinggi lutut hingga paha orang dewasa di kawasan industri tersebut mengganggu aktivitas para pekerja. Sebagian pekerja bahkan terpaksa membolos dan pasrah menerima pemotongan gaji.

Pantauan di lokasi sekitar pukul 10.45 WIB menunjukkan air masih menggenang di badan jalan, mulai dari gerbang masuk kawasan industri Lamicitra Nusantara.

Kondisi tersebut memaksa para pekerja memarkir sepeda motor di tepi jalan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter menuju pabrik.

Dengan pakaian kerja yang basah, para pekerja tampak saling menyemangati saat menerjang banjir.

Beberapa di antaranya mendapat bantuan mobil rescue BPBD Kota Semarang untuk menuju area pabrik. Setibanya di lokasi, mereka membersihkan kaki dan mengganti alas kaki sebelum kembali bekerja.

Namun, tidak semua pekerja beruntung. Sebagian lainnya memilih menunggu truk jemputan pabrik karena tidak membawa sandal maupun pakaian ganti.

Salah satunya adalah Sumini (60), pekerja asal Gubug, Kabupaten Grobogan. Ia terpaksa duduk menunggu di pinggir jalan bersama rekan-rekannya karena tidak ada kendaraan jemputan yang datang.

“Sebenarnya mau masuk kerja, tapi terganggu banjir jadi nggak bisa masuk. Nggak ada jemputan,” ujar Sumini.
Ia mengaku tidak mengetahui informasi banjir sebelumnya karena rumahnya cukup jauh dan tidak sempat memantau grup komunikasi pekerja. Sumini pun pasrah jika harus bolos dan gajinya dipotong satu hari penuh.

“Kalau nggak dapat jemputan ya mau gimana, bolos walaupun dipotong gaji,” katanya.

Menurut Sumini, ketinggian banjir mencapai 60 hingga 70 sentimeter akibat tanggul kolam retensi yang kembali jebol. Ia mengingat banjir besar serupa pernah terjadi pada 2022 lalu.
“Ini sudah kejebol yang kedua. Dulu lebih parah, sampai tergulung air. Harusnya pemerintah bisa memperbaiki lebih baik lagi,” keluhnya.

Hal serupa dirasakan Eko (55), pekerja asal Kecamatan Tembalang. Meski dinyatakan libur cuti akibat banjir, ia tetap datang ke pabrik untuk menyelamatkan peralatan kerja.
“Tadi beresin mesin dan kabel biar nggak kena banjir,” ujarnya.

Eko menyebut banjir biasanya terjadi saat tanggul jebol. Ia mengaku bersyukur tidak mengalami pemotongan gaji karena statusnya cuti, namun menyayangkan dampak banjir yang menghentikan aktivitas produksi.
“Kasihan pekerjanya, kasihan juga PT-nya karena nggak bisa produksi,” imbuhnya.

Sementara itu, Sugiyo (52), pekerja asal Pamularsih, menduga banjir terjadi akibat hujan yang bercampur dengan air rob. Meski air menggenang di depan pabrik setinggi paha, bagian dalam pabrik relatif aman.
“Ini hujan campur rob kayaknya,” katanya.

Ia menyebut dari tiga pabrik di kawasan tersebut, dua di antaranya meliburkan pekerja, sementara satu pabrik masih beroperasi terbatas dengan bantuan transportasi dari BPBD.

Sugiyo berharap perbaikan tanggul kolam retensi segera dilakukan agar banjir tidak terus berulang dan para pekerja bisa kembali beraktivitas dengan normal.

“Semoga cepat diperbaiki dan air segera surut,” pungkasnya.

 

Pewarta : Red/ tim

Share This Article
Tidak ada komentar